SUARA YANG MEMANGGIL NAMAKU DARI KAMAR KOSONG
Tidak ada yang aneh dengan kos itu pada awalnya.
Bangunan tua dua lantai, catnya mengelupas, dan lorongnya selalu lembap meski siang hari. Aku pindah ke sana karena murah dan dekat tempat kerja. Satu hal yang membuatku ragu hanya satu: kamar nomor 7 selalu kosong.
Bukan karena belum ada yang menyewa.
Tapi karena tidak ada yang betah lebih dari tiga malam.
Aku menertawakannya.
Malam pertama, semuanya normal.
Malam kedua, aku mulai mendengar suara langkah kaki di lorong atas padahal aku tahu tidak ada siapa-siapa.
Dan malam ketiga… namaku dipanggil.
“Ardi…”
Pelan. Dekat. Seperti dari balik pintu.
Aku terbangun dengan jantung berdebar. Jam menunjukkan pukul 02.17. Aku yakin itu bukan mimpi. Suaranya jelas, serak, seperti seseorang yang kehabisan napas.
Aku membuka pintu kamar.
Lorong kosong. Lampu berkedip.
Tapi… pintu kamar nomor 7 terbuka sedikit.
Padahal aku ingat jelas, pintu itu selalu terkunci.
Aku mencoba menutupnya. Saat tanganku menyentuh gagang, bau busuk menyengat keluar dari dalam. Seperti bangkai lama yang lembap. Aku refleks mundur.
Dari dalam kamar, terdengar bisikan:
“Masuk… kamu sudah ditunggu…”
Aku lari kembali ke kamar dan mengunci pintu. Malam itu aku tidak tidur.
Pagi harinya, aku tanya ibu kos.
Wajahnya langsung pucat.
“Kamu dengar suara ya…?” tanyanya pelan.
Ia akhirnya bercerita.
Dulu, kamar nomor 7 dihuni seorang pria. Ia meninggal sendirian, terkunci dari dalam, selama tujuh hari. Tidak ada yang tahu sampai bau busuk menyebar ke seluruh kos.
Yang membuat semua orang ngeri:
📌 mulutnya terbuka lebar,
📌 kuku jarinya habis tercabik,
📌 dan di dinding ada tulisan berulang-ulang:
“AKU TIDAK SENDIRI.”
Malam berikutnya, aku berniat pindah.
Tapi hujan deras turun. Listrik mati.
Dan suara itu kembali.
Kali ini dari dalam kamarku.
“Ardi… kenapa kamu mau pergi…?”
Aku gemetar.
Perlahan aku menoleh ke cermin.
Di pantulannya…
aku tidak sendirian.
Ada sosok berdiri tepat di belakangku.
Wajahnya hitam membusuk, matanya cekung, dan mulutnya tersenyum terlalu lebar.
Ia berbisik di telingaku:
“Sekarang kamarmu kamar nomor 7…”
Keesokan paginya, kamar kos itu kosong satu lagi.
Pintu kamar Ardi terkunci dari dalam.
Dan di dinding, ada tulisan baru:
“AKHIRNYA ADA TEMAN.”

0 Komentar